Kumpulan cerita rakyat Sumatera Barat


Nama anggota:

- Dinda Nevania.       (7)
- Novaliana R.           (28)
- Nur Komariyah R. (29)


Hikayat Sabai Nan Aluih


   Di hilir sungai Batang Agam di daerah Padang Tarok yang airnya jernih, berdiri sebuah rumah bergojong (berujung) empat. Rumah tersebut dihuni oleh sepasang suami istri bernama Rajo Babanding dan Sadun Saribai. Mereka mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan, Mangkutak Alam dan Sabai nan Aluih. 

 Mangkutak Alam berwajah tampan, selalu dimanjakan oleh ayahnya ke mana pun pergi ia selalu diajaknya dan merupakan anak kebanggaan. Wataknya sedikit penakut. Sedangkan kakaknya Sabai nan Aluih berwajah cantik, lembut, rajin dan sering membantu ibunya. Waktu luang dimanfaatkan untuk membuat renda dan menenun. Kecantikan Sabai nan Aluih ini bahkan didengar sampai ke kampung-kampung lain di daerah Padang Tarok.


   Suatu ketika Rajo nan Panjang seorang saudagar kaya yang baru kembali dari rantau, orang yang disegani di kampong Situjuh berkeinginan untuk menyunting Sabai nan Aluih. Maka dikirimlah anak buahnya sebagai utusan untuk melamar Sabai. Rajo Babanding orang tua Sabai menolak lamaran ini karena dia tahu, Rajo nan Panjang berusia sebaya dengannya, juga bersifat sombong, mata keranjang dan selalu membanggakan akan kekayaan dan harta bendanya.

"Katakan pada majikanmu, bahwa aku menolak lamarannya, pula Sabai belum mau berumah tangga!" Berkata Rajo Babanding kepada utusan Rajo nan Panjang.

   Rajo nan Panjang yang berwatak keras merasa tersinggung atas penolakan ini. Beberapa hari kemudian ia sendiri yang datang ke rumah Rajo Babanding untuk melamar Sabai nan Aluih tetapi tetap ditolak dengan alasan Sabai nan Aluih belum mau berumah tangga. Mendengar langsung penolakan ini, Rajo nan Panjang pun menantang berkelahi kepada Rajo Babanding.

"Rajo Babanding, kau telah menolak lamaranku untuk menyunting putrimu Sabai. Itu artinya kau menghinaku dan sebagai orang yang disegani di kampong Situjuh, aku tak terima ini dan engkau akan menerima akibatnya" Ancam Rajo nan Panjang sambil menunjukkan tangannya ke arah muka Rajo Babanding.

   Mendengar ancaman ini, Rajo Babanding sedikit pun tak merasa takut. Ia pun balik menantang Rajo nan Panjang,

"Kau kira aku takut dengan segala bentuk ancamanmu itu! Baik, sekarang mari kita bertanding!"

"Baik, kapan?" jawab Rajo nan Panjang.

"Bagaimana kalau hari minggu, di Padang Panahunan!"

   Mendengar pertengkaran ini, Sabai nan Aluih yang berada di balik pintu, hatinya merasa gusar. Ia takut kalau mimpi yang dialaminya selama ini akan menjadi kenyataan. Ia bermimpi, lumbung padinya terbakar jadi arang, kerbau-kerbaunya yang berada di kandang dicuri orang, dan ayam aduannya disambar elang. Segera ia pun mengutarakan mimpinya itu kepada ayahnya.

"Anakku Sabai, mimpimu itu berarti baik. Lumbung terbakar berarti padi akan segera dipanen, kerbau dicuri orang berarti ternak kita akan bertambah, ayam disambar elang itu artinya Mangkutak Alam akan dilamar orang" Demikian jawab Rajo Babanding sambil mengelus rambut putrinya itu dengan maksud untuk menenangkan pikiran gusar Sabai nan Aluih.

   Pada hari yang telah disepakati, pergilah Rajo Babanding ke Padang Panahunan, sebuah tempat sunyi biasa dipakai sebagai tempat adu kesaktian. Rajo Babanding mengajak seorang pembantu setianya bernama Palimo Parang Tagok. Ini dilalukannya bukan untuk membantunya bertanding, tetapi untuk berjaga-jaga apabila Rajo nan Panjang berbuat curang.

   Di Padang Panahunan, Rajo nan Panjang sudah berada di sana terlebih dahulu bersama para pengawalnya. Rajo nan Kongkong, Lompong Bertuah, dan Panglimo Banda Dalam.

"Hai pengawalku, kuperingatkan kepadamu. Jangan sekali-kali memandang remeh Rajo Babanding. Meskipun ia Nampak lembut, ia cukup mahir dalam bermain silat dan hatinya tegar sekeras batu karang, berhati-hatilah!" Tukas Rajo nan Panjang kepada ketiga pengawalnya.

   Setelah kedua belah pihak saling berdekatan, pertarungan pun tak terelakkan lagi, merekapun saling menyerang. Palimo Banda Dalam tersungkur terkena tendangan Palimo Parang Tagok. Lampong bertuah menyerang untuk membela temannya dengan menikam Palimo Parang Tagok dari belakang. Melihat ini Rajo Babanding menjadi marah. Jika semula dia hanya bertahan, kini dia mulai menyerang. Rajo nan Panjang terluka lalu terjatuh dalam lukanya yang parah ia berkata kepada pengawalnya, "Nan Kongkong, Kenapa kau diam saja? Segera tembakkan senapanmu!" Mendengar perintah ini Nan Kongkong yang berada dibalik semak-semak segera mengarahkan senapannya kearah Rajo Babanding. Bunyi letusan senapanpun berdentam dari balik semak-semak, dor...dor..dor... ! Rajo Babanding pun terjatuh ke tanah berlumur darah.

 Sementara di tempat lain seorang gembala ternak yang menyaksikan pertarungan tersebut dan melihat Rajo Babanding terluka parah tertembak senapan Nan Kongkong, segera menyampaikan kejadian ini kepada Sabai nan Aluih. Mendengar berita ini, Sabai sangat terkejut. Ternyata mimpinya menjadi kenyataan. Pada saat itu Mangkutak Alam adik Sabai datang. Kata Sabai, "Hai, Mangkutak. Mari kita ke Padang Panahunan, ayah kita terluka parah dan sudah meninggal karena tertembak senapan di dadanya." berkata Sabai kepada adiknya Mangkutak Alam.

"Oh, kak. Aku tak mau ikut, aku sungguh takut mati. Bukankah aku akan segera menikah.?" Jawab Mangkutak tidak perduli sama sekali dengan keadaan ayahnya.

"Percuma kau menjadi laki-laki. Kau sungguh pengecut!" Bentak Sabai kepada adiknya sambil mengambil senapan di dalam kamar ayahnya. Kemudian iapun berlari ke Padang Panahunan untuk membalas kematian ayahnya yang terbunuh oleh Nan Kongkong pengawal Rajo nan Panjang. Mangkutak Alam hanya menatap saja, diam seribu bahasa memandang kepergian Sabai kakaknya.

  Di tengah-tengah perjalanan di kaki bukit ilalang, Sabai berpapasan dengan Rajo nan Panjang dan pengawalnya.

"ha...ha...ha... Sabai! Kebetulan sekali. Aku ingin menjemputmu untuk aku lamar. Ternyata engkau dating sendiri!” kata Rajo nan Panjang.

"Hai, tua bangka yang tak tahu malu. Kau telah membunuh ayahku dengan cara pengecut! Dasar bedebah!"

"Lancang sekali mulutmu, Sabai. Kau akan menyesal seperti ayahmu nanti! Mati tertembak senapan ini!” sambil menepuk-nepuk senapan di tangannya.

"Oh... jadi kau telah membunuh ayahku yang tidak bersenjata itu. Sungguh kau manusia bedebah. Padahal ayahku tidak bersenjata, kau sungguh licik" sambil mengarahkan senapannya ke wajah laki-laki itu. Dan bunyi senapan Sabaipun berdentam beberapa kali membuat tubuh laki-laki sombong, mata keranjang terjerambab ke tanah. Tewas seketika.

 Para pengawal Rajo nan Panjang setelah melihat majikannya tewas hanya terperangah. Beberapa saat kemudian Nan Kongkong mengajak temannya pergi sambil berucap, "Untuk apa membela orang yang sudah mati. Orang mati tentu tak bisa membayar kita."


TAMAT


***


Legenda Danau Maninjau



   Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.

   Semenjak orangtua mereka meninggal dunia, mereka diasuh oleh seorang paman, yaitu Datuk Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki bernama Giran.

   Setelah menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak balk, akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing. Kedua keluarga itu menyambut hubungan Sani dan Gani dengan suka cita.

   Saat panen usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.

   Kukuban dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.

   Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.

  Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima dikalahkan oleh Giran dan menyebabkan kakinya patah.

   Suatu hari, Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.

“Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran sudah mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!" ujar Kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan hasil.

“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian yang sebenarnya."

   Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran tidak bisa menikah.

   Betapa sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu tempat membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai.

"Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita," keluh Giran.

"Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada Abang;" isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani merintih kesakitan "Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya," ujar Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.

   Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengawasi Sani dan Giran.

   Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.

   Sidang adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.

   Sani dan Giran digiring menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain hitam. Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka tidak bersalah.

   Di puncak Gunung Tinjau, Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Ietuskanlah gunung ini sehingga menjadi pelajaran bagi mereka semua," doa Giran sambil berurai air mata. Lalu, Sani dan Giran meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.

   Bujang Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur.

   Tidak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya.

   Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang semakin lama semakin besar, sehingga menyerupai sebuah danau. Danau tersebut disebut dengan Donau Maninjau.

TAMAT

***

Legenda Terbentuknya Danau Singkarak


   Pada zaham dahulu kala, di sebuah taratak kecil di nagari Minangkabau, menetaplah keluarga Pak Buyung. Pak Buyung tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir sawah bersama istri dan seorang putra. Putra pak Buyung masih kecil , Ia bernama Indra. Sehari-harinya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan.

   Indra sering membantu kedua orang tuanya ke hutan maupun ke laut. Hal ini membuat bangga kedua orang tuanya. Namun, ada hal yang membuat mereka risau. Dalam sekali makan, Indra dapat menghabiskan setengah bakul nasi dengan lauk beberapa piring.

   Suatu ketika, musim paceklik datang. Keluarga Pak Buyung pun harus berhemat. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau yang lain. Kesulitan mendapatkan makanan membuat mereka hampir berputus asa.

"Ayah, aku sangat lapar,” keluh Indra.

“Kalau lapar, carilah makanan ke hutan atau ke laut!” seru sang Ayah. “Kamu memang masih anak-anak, tapi makanmu banyak.”

   Sang Ibu pun membujuk Indra agar berangkat ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil hutan di Bukit. Indra menurut. Sebelum berangkat, ia memberi makan ayam piaraannya yang bernama Taduang. Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap Indra pulang, Taduang selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.

   Menjelang siang, Indra pulang tanpa membawa hasil. Setelah beristirahat, ia pergi ke laut untuk mencari ikan. Tak lama setelah itu, sang Ibu juga berangkat ke sebuah Tanjung, agak jauh dari tempat India mencari ikan.

   Sore hari, sang Ibu pulang membawa banyak kerang. Kemudian, kerang itu diolah menjadi makanan.

“Wah, harum sekali aromanya,” puji sang Ayah. “Bu, apakah kerang ini cukup untuk kita makan bertiga? Indra kan makannya banyak.”

“Apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya sang Ibu.

“Bagaimana kalau kita makan diam-diam?” saran sang Ayah. Sang Ibu pun mengangguk. Lalu, keduanya menyantap kerang itu dengan lahapnya.

   Menjelang malam, Indra pulang. Indra sangat kelaparan. Begitu masuk, ia menuju dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orang tuanya tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan kulit kerang.

   Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil menangis. Melihat kesedihan Indra, Taduang pun berkokok berkali-kali, lalu mengepak-ngepakkan sayapnya. Beberapa saat kemudian, Taduang terbang ke udara. Indra segera berpegangan pada kaki Taduang. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk ikut terangkat dan membesar. Kemudian, batu itu melesat dan menghantam salah satu bukit di sekitar laut. Hantaman itu membentuk lubang memanjang. Dengan cepat, air laut mengisi lubang itu sehingga membentuk aliran sungai.

   Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin. Semakin lama, air laut semakin menyusut dan berubah menjadi Danau Singkarak.

TAMAT

***

Asal Mula Nama Nagari Minangkabau


   Dahulu, di Sumatera Barat, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Rakyatnya senantiasa hidup aman, damai, dan tenteram. Suatu ketika, ketenteraman negeri itu terusik oleh adanya kabar buruk bahwa Kerajaan Majapahit dari Pulau Jawa akan menyerang mereka. Situasi tersebut tidak membuat para punggawa Kerajaan Pagaruyung gentar.

“Musuh pantang dicari, datang pantang ditolak. Kalau bisa dihindari, tapi kalau terdesak kita hadapi,” demikian semboyan para pemimpin Kerajaan Pagaruyung.

   Suatu hari, pasukan Kerajaan Majapahit tiba di Kiliran Jao, sebuah daerah di dekat perbatasan Kerajaan Pagaruyung. Di tempat itu pasukan Kerajaan Majapahit mendirikan tenda-tenda sembari mengatur strategi penyerangan ke Kerajaan Pagaruyung. Menghadapi situasi genting itu, para pemimpin Pagaruyung pun segera mengadakan sidang.

“Negeri kita sedang terancam bahaya. Pasukan musuh sudah di depan mata. Bagaimana pendapat kalian?” tanya sang Raja yang memimpin sidang tersebut.

“Ampun, Paduka Raja. Kalau boleh hamba usul, sebaiknya kita hadapi mereka dengan pasukan berkuda dan pasukan gajah,” usul panglima perang kerajaan.

“Tunggu dulu! Kita tidak boleh gegabah,” sanggah Penasehat Raja, “Jika kita serang mereka dengan pasukan besar, pertempuran sengit pasti akan terjadi. Tentu saja peperangan ini akan menyengsarakan rakyat.”

   Suasana sidang mulai memanas. Sang Raja yang bijaksana itu pun segera menenangkannya.

“Tenang, saudara-saudara!” ujar sang Raja, “Saya sepakat dengan pendapat Paman Penasehat. Tapi, apa usulan Paman agar peperangan ini tidak menelan korban jiwa?”

   Pertanyaan sang Raja itu membuat seluruh peserta sidang terdiam. Suasana pun menjadi hening. Semua perhatian tertuju kepada Penasehat Raja itu, mereka tidak sabar lagi ingin mendengar pendapatnya. Beberapa saat kemudian, Penasehat Raja itu pun angkat bicara.
“Ampun, Paduka Raja. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, alangkah baiknya jika musuh kita ajak berunding. Kita sambut mereka di perbatasan kemudian berunding dengan mereka. Jika mereka menolak, barulah kita tantang mereka adu kerbau,” ungkap Penasehat Raja.

“Hmmm… ide yang bagus,” kata sang Raja, “Bagaimana pendapat kalian semua?”

“Setuju, Paduka Raja,” jawab seluruh peserta sidang serentak.

   Selanjutnya, sang Raja bersama punggawanya pun menyusun strategi untuk mengalahkan musuh tanpa pertumpahan darah. Sang Raja segera memerintahkan kepada putri Datuk Tantejo Garhano untuk menghiasi anak-anak gadisnya dan dayang-dayang istana yang cantik dengan pakaian yang indah. Datuk Tantejo Garhano adalah seorang putri yang memiliki tata krama dan kelembutan. Sifat-sifat itu telah diajarkan oleh Datuk Tantejo Garhano kepada anak-anak gadisnya serta para dayang istana.
   Setelah semua siap, Datuk Tantejo Garhano bersama anak-anak gadisnya serta dayang-dayang istana menuju ke perbatasan untuk menyambut kedatangan pasukan musuh. Mereka pun membawa berbagai macam makanan lezat untuk menjamu pasukan Majapahit. Sementara itu, dari kejauhan, pasukan Pagaruyung terlihat sedang berjaga-jaga untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa terjadi.

   Tak berapa lama setelah rombongan Datuk Tantejo Garhano tiba di perbatasan, pasukan musuh dari Majapahit pun sampai di tempat itu.

“Selamat datang, Tuan-Tuan yang budiman,” sambut Datuk Tantejo Garhano dengan sopan dan lembut. “Kami adalah utusan dari Kerajaan Pagaruyung. Raja kami sangat senang dengan kedatangan Tuan-Tuan di istana. Tapi sebelumnya, silakan dicicipi dulu hidangan yang telah kami sediakan! Tuan-Tuan tentu merasa lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh.”

   Melihat perlakuan para wanita cantik itu, pasukan Majapahit menjadi terheran-heran. Mereka sebelumnya mengira bahwa kedatangan mereka akan disambut oleh pasukan bersenjata. Namun, di luar dugaan, ternyata mereka disambut oleh puluhan wanita-wanita cantik yang membawa hidangan lezat. Dengan kelembutan para wanita cantik tersebut, pasukan Majapahit pun mulai goyah untuk melancarkan serangan hingga akhirnya menerima tawaran itu.
Setelah pasukan Majapahit selesai menikmati hidangan dan beristirahat sejenak, Datuk Tantejo Garhano segera mengajak pemimpin mereka ke istana untuk menemui sang Raja.

“Mari, Tuan! Raja kami sedang menunggu Tuan di istana!” bujuk Datuk Tantejo Garhano dengan santun.

“Baiklah, saya akan segera menemui Raja kalian,” jawab pemimpin pasukan itu.

   Setiba di istana, Datuk Tantejo Garhano langsung mengantar pemimpin pasukan itu masuk ke ruang sidang. Di sana, sang Raja bersama punggawanya terlihat sedang duduk menunggu.

“Selamat datang, Tuan,” sambut sang Raja, “Mari, silakan duduk!”

“Terima kasih, Paduka,” ucap pemimpin itu.

“Ada apa gerangan Tuan kemari?” tanya sang Raja pura-pura tidak tahu.

“Kami diutus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Pagaruyung. Kami pun harus kembali membawa kemenangan,” jawab pemimpin itu.

“Oh, begitu,” jawab sang Raja sambil tersenyum, “Kami memahami tugas Tuan. Tapi, bagaimana kalau peperangan ini kita ganti dengan adu kerbau. Tujuannya adalah untuk menghindari pertumpahan darah di antara pasukan kita.”
Pemimpin pasukan Majapahit itu terdiam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia pun menyetujui usulan sang Raja.

“Baiklah, Paduka Raja. Kami menerima tawaran Paduka,” jawab pemimpin itu.

   Akhirnya, kedua belah pihak bersepakat untuk beradu kerbau. Jika kerbau milik sang Raja kalah, maka Kerajaan Pagaruyung dinyatakan takluk. Tapi, jika kerbau milik Majapahit kalah, mereka akan dibiarkan kembali ke Pulau Jawa dengan damai.

   Dalam kesepakatan tersebut tidak ditentukan jenis maupun ukuran kerbau yang akan dijadikan aduan. Oleh karena ingin memenangi pertandingan tersebut, pasukan Majapahit pun memilih seekor kerbau yang paling besar, kuat, dan tangguh. Sementara itu, sang Raja memilih seekor anak kerbau yang masih menyusu. Namun, pada mulut anak kerbau itu dipasang besi runcing yang berbentuk kerucut. Sehari sebelum pertandingan itu dihelat, anak kerbau itu sengaja dibuat lapar dengan cara dipisahkan dari induknya.

   Keesokan harinya, kedua kerbau aduan segera dibawa ke gelanggang di sebuah padang yang luas. Para penonton dari kedua belah pihak pun sedang berkumpul di pinggir arena untuk menyaksikan pertandingan yang akan berlangsung sengit tersebut. Kedua belah pihak pun bersorak-sorak untuk memberi dukungan pada kerbau aduan masing-masing.

“Ayo, kerbau kecil. Kalahkan kerbau besar itu!” teriak penonton dari pihak Pagaruyung.Dukungan dari pihak pasukan Majapahit pun tak mau kalah.

“Ayo, kerbau besar. Cincang saja anak kerbau ingusan itu!”

   Suasana di tanah lapang itu pun semakin ramai. Kedua kerbau aduan telah dibawa masuk ke dalam arena. Suasana pun berubah menjadi hening. Penonton dari kedua belah pihak terlihat tegang. Begitu kedua kerbau tersebut dilepas, kerbau milik Majapahit terlihat beringas dan liar. Sementara itu, anak kerbau milik Pagaruyung segera memburu hendak menyusu pada kerbau besar itu karena mengira induknya.

   Tak ayal, perut kerbau milik Majapahit pun terluka terkena tusukan besi runcing yang terpasang di mulut anak kerbau milik Pagaruyung. Setelah beberapa kali tusukan, kerbau milik pasukan Majapahit akhirnya roboh dan terkapar di tanah. Melihat kejadian itu, penonton dari pihak Pagaruyung pun bersorak-sorak gembira.

“Manang kabau…, Manang kabau…,” demikian teriak mereka.

   Akhirnya, pasukan Majapahit dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut. Mereka pun diizinkan kembali ke Majapahit dengan damai. Sementara itu, berita tentang kemenangan kerbau Pagarayung tersebar ke seluruh pelosok negeri. Kata “manang kabau” yang berarti menang kerbau pun menjadi pembicaraan di mana-mana. Lama-kelamaan, pengucapan kata “manang” berubah menjadi kata “minang”. Sejak itulah, tempat itu dinamakan Nagari Minangkabau, yaitu sebuah nagari (desa) yang bernama Minangkabau.

   Sebagai upaya untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk negeri Pagaruyung merancang sebuah rumah rangkiang (loteng) yang atapnya menyerupai bentuk tanduk kerbau. Konon, rumah itu dibangun di perbatasan, tempat pasukan Majapahit dijamu oleh para wanita-wanita cantik Pagaruyung.

TAMAT

***

Orang Bunian


   Orang bunian atau sekedar bunian adalah mitos sejenis makhluk halus dari wilayah Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia. Berdasar mitos tersebut, orang bunian berbentuk menyerupai manusia dan tinggal di tempat-tempat sepi, di rumah-rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya dalam waktu lama.
  
  Istilah ini dikenal di wilayah Istilah orang bunian juga kadang-kadang dikaitkan dengan istilah dewa di Minangkabau, pengertian “dewa” dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam ajaran Hindu maupun Buddha. “Dewa” dalam istilah Minangkabau berarti sebangsa makhluk halus yang tinggal di wilayah hutan, di rimba, di pinggir bukit, atau di dekat pekuburan. 

   Biasanya bila hari menjelang matahari terbenam di pinggir bukit akan tercium sebuah Aroma yang biasa dikenal dengan nama “masakan dewa” atau “samba dewa”. Aroma tersebut mirip bau kentang goreng. Hal ini dapat berbeda-beda namun mirip, berdasarkan kepercayaan lokal masyarakat Minangkabau di daerah berbeda. “Dewa” dalam kepercayaan Minangkabau lebih diasosiasikan sebagai bergender perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di kepercayaan la Selain itu, masyarakat Minangkabau juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa / orang bunian. Ada juga istilah “orang dipelihara dewa”, yang saat bayi telah dilarikan oleh dewa. Mitos ini masih dipercaya banyak masyarakat Minangkabau sampai sekarang.

TAMAT

***

MITOS PALASIK


   Menurut cerita yang berkembang secara turun temurun di Minangkabau, palasik adalah orang yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi dan dengan ilmunya ini palasik dipercaya dapat menghisap darah anak-anak, balita bahkan janin yang berada di dalam kandungan. Makanya banyak ibu-ibu di Minangkabau yang merasa takut untuk membawa keluar rumah bayi atau balitanya dan jika memang mendesak biasanya ibu-ibu memasang jimat penangkal pada salah satu bagian tubuh anaknya.

   Jika ingin membawa ke tempat keramaian seperti pasar atau pusat perbelanjaan, acara resepsi pernikahan,hendak lah membawa sambua. Sambua adalah istilah untuk jimat penangkal dan biasanya sambua di dapat dari orang pintar.  Menurut para orang tua, bisa jadi palasik ada di antara orang-orang banyak ini. 

   Ilmu palasik diyakini sebagai ilmu yang menurun dalam sebuah keluarga. Jika orang tuanya palasik, maka otomatis anaknya juga palasik dengan syarat harus menjalankan sebuah ritual terlebih dahulu. 

   Konon menurut cerita, di masa lampau orang yang memiliki ilmu palasik harus menikah dengan palasik juga, dan mereka terasing hidup dalam komunitas  tersendiri. Tapi pada masa sekarang palasik sukar untuk dikenali sehingga mereka bebas hidup dalam masyarakat. 

   Terdapat 3 spesialisasi jenis palasik. Pertama, palasik spesialis ibu-ibu hamil, palasik ini memakan bayi yang masih berada di dalam kandungan sehingga bayi yang lahir tanpa ubun-ubun bahkan meninggal dunia.
Kedua, palasik spesialis bayi dan anak anak balita, palasik ini menghisap darah bayi dan anak-anak. Jika tidak segera tahu dan segera di obati maka si bayi akan sakit-sakitan bahkan sampai meninggal dunia.
Ketiga, palasik spesialis makan bayi yang sudah di kubur. Ada juga istilah palasik kuduang, palasik yang memutus kepala dari badannya dalam mempraktekkan ilmu hitamnya. Kuduang dalam bahasa minang berarti potong atau putus.

   Cara palasik mengaplikasikan ilmunya adalah dengan menghisap darah melalui ujung jempol kaki mangsanya, menyapa mangsa atau dapat juga dengan menatap dalam-dalam mangsanya. Jika seorang palasik berhasil melakukan aksinya, maka si anak yang jadi mangsanya akan mengalami panas tinggi, kejang-kejang, muntah, diare yang berkepanjangan dan mata yang selalu mengeluarkan kotoran. Apabila tidak segera di obati ke orang pintar maka bisa berakibat fatal, si anak bisa  meninggal dunia.

   Tak dapat dipungkiri masyarakat Minangkabau meyakini adanya keberadaan palasik. Sehingga kebanyakan ibu-ibu hamil, bayi yang baru lahir dan balita selalu menyertakan jimat penangkal di tubuh mereka agar terhindar dari bahaya palasik. Nyata atau tidak palasik merupakan bagian dari kekayaan mitos dan mistis yang dimiliki negeri kita ini. Berserah diri dan berlindung kepada-Nya merupakan jalan terbaik agar terhindar dari segala marabahaya

TAMAT


***


 Hikayat Sidi Mara, Bajak Laut Pantai Barat SumateraSumatera


   Sumatera Barat terlebih pantai barat Sumatra terus memanas pasca Belanda mematahkan perlawanan kaum Paderi tahun 1837. Teror dan kegaduhan bermunculan sehingga Belanda mengeluarkan kebijakan rust en orde untuk mengontrol ketertiban dan keamanan.

   Kegaduhan muncul dari orang dan kelompok yang selama ini banyak membantu kaum Paderi dalam menghadapi Belanda. Pihak kolonial melabeli mereka bajak laut dan perampok. Mereka dianggap pemicu terjadinya amuk massal dan pembakaran gudang yang dikuasai Belanda.

   Bajak laut yang cukup disegani adalah Sidi Mara dengan 20 orang anak buah. Namanya sering disebut dalam catatan militer Belanda pada abad 19. “Nama Sidi Mara sering disebut dalam beberapa tulisan para petinggi militer Belanda yang pernah bertugas di Minangkabau, ” sebut filolog Suryadi beberapa waktu lalu.

   Guru Besar Sejarah Universitas Andalas Gusti Asnan mengatakan, Sidi Mara salah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal di pantai barat Sumatra, selain Panglima Mentawe, Nja’ Pakir dan Po Id.

   Sejatinya, Sidi Mara merupakan seorang pedagang perantara atau broker. Ketika zaman Perang Paderi, dia menjadi pedagang penghubung antara orang-orang Aceh dengan kaum Paderi. Dia memasok keperluan kaum Paderi dengan barang seperti senjata, pakaian, garam, ikan, dan lain-lain. Semua dibeli ke orang Aceh.

“Dia memiliki gudang yang cukup besar di Katiagan, Pasaman,” ujar Suryadi.

   Kaum Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol mulai terdesak ketika pasukan Belanda terus merangsek. Letnan Satu Infantri J.C Boelhouwer, dalam memoar “Kenang-kenangan di Sumatera Barat Selama Bertahun-tahun 1831-1834” mencatat, militer Belanda merangsek ke pusat Paderi di Bonjol. Gudang dagang yang banyak berdiri di Katiagan, tidak jauh dari Bonjol dibakar.

   Salah satu gudang yang ikut terbakar adalah milik Sidi Mara. Sejak itu, dia begitu marah pada Belanda. Dia dengan gerombolannya menyerang kampung-kampung yang berkongsi dengan Belanda.

   Gusti Asnan mengatakan aktivitas bajak laut di pantai barat Sumatera di abad 19 karena motif ekonomi dengan melakukan perompakan terhadap kapal-kapal niaga yang sedang berlayar, perkampungan penduduk, dan juga karena motif politik.

   Korban bajak laut banyak dialami pedagang (pecalang) Tinghoa ketimbang Eropa. Sebab, pecalang Eropa sudah memiliki persenjataan membuat bajak laut berpikir untuk menyerang. Selain itu juga perompakan terhadap kampung, bahkan menculik penduduk untuk komoditas budak.

   Bukan hanya Sidi Mara, keangkuhan Belanda juga memantik beberapa orang bekas pedagang terutama dari Aceh, melakukan kegaduhan terutama di kampung-kampung yang berkongsi dengan Belanda.

“Beberapa laporan Belanda menyebut bahwa bajak laut lebih suka merompak perkampungan di pinggir pantai yang sudah jatuh ke tangan Belanda,” ujar Gusti Asnan yang menulis buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera.

   Menurutnya, bajak laut adalah persepsi Belanda, sementara di mata Paderi, mereka adalah pahlawan. “Belanda mengatakan pada gerombolan seperti bajak laut dengan ungkapan anak haram Jadda,” bilangnya.

   Seabrek cacatan kolonial Belanda, tidak diketahui biodata yang jelas tentang Sidi Mara. Begitu pun akhir kisahnya. “Tidak ada catatan biodata yang jelas tentang Sidi Mara. Misal tanggal, tahun lahir, kampung, dan keturunan siapa,” ujar Gusti Asnan.

   Namun, menurut Suryadi yang akrab dipanggil Ajo, Sidi Mara berasal dari Pariaman. Ia merupakan salah satu gelar adat di Pariaman. Sidi berasal dari kata Sayyidi (sama dengan Tuanku). Gelar ini diberikan kepada mereka yang bernasab kepada kaum ulama (syayyid), yaitu penyebar agama Islam di daerah Pariaman.

   Sidi, sama halnya dengan gelar lain seperti Sutan dan Bagindo, merupakan gelar yang disematkan pada laki-laki yang baru saja kawin di Pariaman. Gelar demikian diturunkan terus-menerus yang dipetik dari garis ayah (patrilineal).

“Sidi Mara ini orang Pariaman. Kalau tidak salah dia seorang pedagang,” imbuh Suryadi.

   Untuk mengantisipasi bajak laut, pemerintah Hindia Belanda mendirikan banyak pos pengaman di pelbagai kota pantai. Belanda juga sering mengirim ekspedisi militer ke kawasan utara Sumatera.

“Berkat kesungguhan Belanda, tahun 1860-an, tidak ditemukan lagi laporan pemerintah tentang kegiatan bajak laut,” pungkas Gusti Asnan.

TAMAT


***



MENGIDENTIFIKASI SELURUH CERITA RAKYAT SUMATERA BARAT


1.hikayat Sabai nan aluih
2.Legenda Danau Maninjau
3.Legenda terbentuknya Danau Singkarak
4.Asal mula nama nagari Minangkabau
5.mitos orang bunian
6.mitos palasik
7.hikayat sidi mara,Bajak Laut pantai merah sumatera




1. Definisikan konsep cerita rakyat menurut kelompok kalian!
Jawab: 
   
  a. Fabel

Fabel adalah cerita tentang kehidupan binatang. Namun, dunianya sama dengan dunia manusia.
Di dalam fabel, binatang-binatang yang menjadi tokoh digambarkan memiliki perilaku seperti manusia.
Jadi, binatang-binatang itu bisa berbicara, berpikir, sekolah, bekerja, dan melakukan aktivitas lain seperti manusia.
Bahkan, di dalam fabel juga ada konflik antara hewan yang menjadi tokoh utama dengan hewan lain yang ada di dalam cerita.
Contoh fabel adalah cerita tentang kura-kura dan kelinci, kancil dan buaya, dan lain-lain.

b. Legenda

Legenda adalah cerita yang mengisahkan tentang asal-usul terbentuknya suatu tempat, seperti asal-usul terjadinya Gunung Tangkuban Parahu.
Cerita seperti ini biasanya berasal dari rakyat zaman dahulu.
O iya, rakyat yang tinggal di daerah itu biasanya menganggap cerita legenda itu benar-benar terjadi.
Kemudian, cerita legenda itu akan diceritakan kembali turun-temurun hingga menjadi cerita yang sekarang ini kita ketahui.

c. Mite

Mite merupakan cerita yang berasal dari rakyat di sebuah daerah.
Biasanya, mite menceritakan tentang tokoh gaib, seperti dewa, peri, atau bahkan hantu.
Salah satu contoh dari mite adalah cerita tentang Nyai Loro Kidul dari Yogyakarta.

d. Sage

Sage adalah kisah yang menceritakan kehebatan atau kepahlawanan seseorang, misalnya kisah Jaka Tingkir.
O iya, sage ini biasanya menyebar dari mulut ke mulut dan juga diwariskan dari nenek moyang ke keturunannya.
Maka itu, lama kelamaan, ceritanya bisa sedikit berubah, ada beberapa bagian yang bertambah tapi juga bisa berkurang.

e. Parabel

Parabel adalah cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan, baik pendidikan agama, moral, atau pendidikan lainnya.
Nilai-nilai pendidikan yang ada di dalam parabel biasanya disampaikan secara tersirat.
Contoh dari cerita parable ini adalah Malin Kundang dari Sumatra.



2. Apakah menurut kelompok kalian cerita rakyat dengan legenda itu berbeda?

Jawab :
 Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yag empunya cerita sebagai suatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, Legenda seringkali dipandang sebagai sejarah kolektif (folkstory).
Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki kultur budaya yang beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa.



3. Apakah menurut kelompok kalian cerita rakyat dengan mitos itu berbeda?
Jawab : 
Mitoos itu ada seperti mitos tentang asal usul daerah, aktivitas, kebiasaan, dewa, dll. Dalam mitos, biasanya ada yang benar ada juga yang tidak
Sedangkan 
Kalau cerita rakyat, biasanya mengisahkan suatu kejadian di suatu wilayah tertentu. Contohnya asal usul terbentuknya daerah itu
Sekarang kita bahas perbedaannya

*Perbedaan antara mitos, dan cerita rakyat yaitu :
Mitos itu cerita yang belum jelas kebenarannya (bisa memang mitos, atau bisa juga memang fakta). Kalau legenda, merupakan cerita rakyat dimasa lampau yang benar-benar terjadi dan biasanya memiliki bukti  yang akurat. Sedangkan cerita rakyat itu biasanya cerita tentang kebudayaan asal usul suatu tempat atau kejadian .



4. Buatlah satu perbandingan khas suku kalian dengan suku yang lainnya , misalnya konsep makan  atau sebagainya!

Jawab : 
 *suku Padang dan suku Jawa 
      -Perbadingan suku padang dan jawa dalam konsep makan : yaitu kalau padang biasanya makanan pedas,seperti rendang ,sedangkan kalau suku jawa manis ,seperti  gudeg.

      -Perbadingan suku padang dan jawa dalam konsep Etnis : 
etnisNusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, Barat Daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia.
Sedangkan
Etnis jawa melakukan imigrasi ke etnis minang (perpindahan penduduk dari kota ke desa). hal ini terjadi akibat adanya pemuda minang yang merantau ke jawa dan menemukan pasangan (jodoh) setelah menikah pasangannya dibawah kekampung halamannya sesuai dengan adat jawa istri mengikut suami. Dan mereka melangsungkan kehidupanya diminang walaupun banyak perbedaan diantara dua etnis initapi tidak membuat hubungan mereka memburuk tapi semakin lama semakin baik dan harmonis. Walaupun banyak perbedaan diantaramereka mulai dari latar belakang budaya, bahasa , mata pencarian dan sistem kepercayaan. Tapi berbedaan tidak membuat hubungan memburuk atau konflik antar etnistapi sebaliknya membuat hubungan mereka semakin harmonis.



5. Buatlah satu kesamaan khas suku kalian dengan suku yang lainnya!
Jawab :
 Persamaan suku padang dan suku palembang 
*Merupakan satu melayu.
suku Padang, Sumatera Barat, adalah suku yang mengutamakan adat istiadat. Misal dalam hal kepemimpinan, sebuah desa atau tempat, biasanya dipimpin oleh seorang Datuk.
Sementara dalam hal pernikahan, adat di Padang biasanya acara pernikahan diiringi musik daerah yang khas berupa saluang, yaitu alat musik berbentuk seruling.
Selain itu, ada satu daerah di Sumatera Barat yang menerapkan adat sedikit berbeda dalam hal pernikahan.
“Ada salah satu daerah di Pariaman, dalam adat lamaran, mempelai wanita yang memberikan mahar terhadap pria. Kemudian dalam adat istiadat silsilah pembagian harta warisan, anak wanita lebih dikedepankan daripada anak pria,” kata Datuk Sima Rajo.
Pemangku Adat Palembang, Raden Ali Hanafiah yang turut menerima rombongan dari Padang ini, berkata, secara keseluruhan dirinya sangat senang Hdikunjungi Datuk Sima Rajo karena dia pun bisa lebih mengenal budaya Padang.
Menurut Ali, sebuah kebudayaan atau budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan, bahkan karya seni.
“Budaya ini seperti bahasa yang merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia, sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis,” ucapnya.



6. Identifikasikanlah seluruh cerita rakyat yang berasal dari daerah atau suku kalian sertakan sumber      pencarian informasi yang kalian dapatkan misalnya sumber: www.ceritarakyat.com!
Jawab : •https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-sumatera-barat-kisah-si-lebai/amp/?_gl=1*pwnsp3*_ga*YW1wLWVwN0ZCaXpXQnJEWkVfUUZWZ19KNHllTHVlX1g0OW5FQUZrbjJGME11NFVSNnVmVl83eXg2ajdwUFhJRFdYaDI.

•https://dongengceritarakyat.com/kumpulan-dongeng-legenda-nusantara-putri-kemarau/amp/

•https://dongengceritarakyat.com/dongeng-cerita-bawang-putih-bawang-merah/amp/

•https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-sumatera-barat-danau-singkarak/amp/

•https://dongengceritarakyat.com/cerita-dongeng-rakyat-sumatera-barat-pak-lebai-malang/amp/
   



7. Tulislah hasil pencarian kalian atas pertanyaan yang telah diajukan di blog salah satu anggota  kelompok!






Jakarta, 29 Oktober 2019



  • ( X Multimedia, 64 )

Komentar